Dampak Perubahan Iklim pada Laut

Pada tanggal 4 Januari 2010 yang lalu, BPPT kedatangan tamu penting dari Amerika Serikat, yaitu Dr. Jane Lubchenco, Wakil Menteri Perdagangan AS untuk Kelautan dan Atmosfer, yang juga Kepala Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA). Dalam kunjungan tersebut, beliau sempat memberikan pemaparan dalam acara “General Lecturer on Ocean Science & Technology” dengan judul “Impacts of Climate Change on Oceans”. Dalam pemaparannya ini, beliau menyampaikan tentang beberapa kecenderungan yang terjadi saat ini di laut global, yaitu: laut mengalami penghangatan, laut menjadi lebih asam, dan semakin berkurangnya sumberdaya laut dan terganggunya ekosistem laut yang disebabkan oleh penangkapan ikan berlebih (overfishing), polusi (terutama polusi nutrien), hilangnya habitat yang rentan di pesisir, serta perubahan iklim dan pengasaman laut.

Menurut beliau, sejak tahun 1980-an yang merupakan puncak produksi penangkapan ikan tertinggi, jumlah tangkapan ikan secara global telah mengalami penurunan (Myers dan Worm, 2003), dimana 25% dari perikanan global telah berkurang secara signifikan (FAO, 2005) dan 90% dari seluruh ikan besar telah sirna (Myers dan Worm, 2003). Semuanya itu, kembali lagi, tidak terlepas dari 4 faktor utama, yaitu penangkapan ikan berlebih (overfishing), polusi (terutama polusi nutrien), hilangnya habitat yang rentan di pesisir, serta perubahan iklim dan pengasaman laut.

Seiring dengan semakin meningkatnya gas rumah kaca (GRK) di atmosfer bumi, para ahli memperkirakan bahwa akan terjadi pula kenaikan suhu dan muka air laut serta kemungkinan terjadinya perubahan sirkulasi air laut. Mengacu kepada hasil penelitian Levitus et al. (2000) yang menyatakan bahwa kandungan bahang di laut mengalami kenaikan di pertengahan kedua abad ke-20, beliau menyatakan bahwa hal ini akan berdampak pada terjadinya pemutihan terumbu karang (coral bleaching), melelehnya es di Samudera Arktik, dan punahnya beberapa spesies  ikan.

Yang cukup mengejutkan, menurut beliau, perubahan iklim ternyata telah mengubah dinamika upwelling di pantai. Jika pada tahun 1950-1999 jarang ditemukan adanya hipoksia  dan anoksia (berkurangnya konsentrasi oksigen terlarut dalam kolom air), maka sejak tahun 2000 hingga 2005 telah terjadi peningkatan jumlah kejadian hipoksia. Bahkan di tahun 2006 ditemukan terjadinya anoksia di inner-shelf.

Seri Tokoh Oseanografi: Fridtjof Nansen

Fridtjof Nansen (10 Oktober 1861 – 13 Mei 1930), berkebangsaan Norwegia, seorang penjelajah benua Artik, ilmuwan, negarawan dan humanitarian. Keberagaman akan hal yang dilakukannya terlihat dari hasil karyanya yang mencakup Eskimo Life (1893), Closing-Nets for Vertical Hauls and for Vertical Towing (1915), Russia & Peace (1923), dan Armenia and the Near East (1928).Perjalanan pertamanya ke Artik dilakukan pada tahun 1882. Sekembalinya dari perjalan tersebut, beliau menjadi kurator koleksi sejarah alam di Museum Bergen. Pada tahun 1888, bersama dengan kelompoknya, beliau membuat sebuah memorabilia perjalanan melintasi Greenlad dengan ski, yang dijelaskannya dalam First Crossing of Greenland (1890).

Beliau memiliki angan-angan atau cita-cita yang cukup aneh yaitu mencapai kutub utara dengan “menumpang” di es yang mengapung di kutub. Untuk itu, beliau melakukan pelayaran ke Artik pada tahun 1893 di dalam kapal Fram yang didesain khusus untuk tahan terhadap benturan es (ekspedisi Fram). Fram tersebut ditambatkan pada es yang mengapung pada posisi 83o59′ LU, menuju 85o57′ LU, dan pada tahun 1896 kembali dengan selamat (meskipun tidak mencapai kutub) di Norwegia, seperti yang sudah diperkirakan Nansen sebelumnya. Pada tahun 1895 beliau meninggalkan kapalnya tersebut dan mengatur rencana baru untuk melengkapi perjalanannya ke kutub dengan menggunakan sledge (apa ya bahasa Indonesianya?). Namun demikian beliau hanya bisa mencapai posisi 86o14′ LU akibat kondisi es yang membelok.

Meskipun beliau ataupun kapalnya tidak bisa mencapai kutub, namun ekspedisi yang telah dilakukannya memberikan informasi yang sangat berharga bagi dunia tentang Artik dan membuat beliau terkenal di seluruh dunia. Beliau telah membuktikan bahwa laut yang membeku berada di sekitar kutub dan memenuhi basin kutub.

Dengan informasi oseanografi, meteorologi, diet dan nutrisi yang sangat lengkap ini, Nansen telah meletakkan dasar bagi kegiatan di Artik pada masa selanjutnya. Farthest North, laporan penjelajahannya yang brilian, hadir dalam terjemahan bahasa Inggris pada tahun 1897. Bahan-bahan ilmiah ekspedisinya dipublikasikan pada The Norwegian North Polar Expedition (diedit oleh Nansen, 6 volume, 1900-1906). The Nansen Fund untuk riset saintifik didirikan untuk menghormatinya. Di Universitas Royal Frederick, Christiania (sekarang Oslo), beliau menjabat sebagai profesor zoologi (1897) dan oseanografi (1908).

Karir beliau dalam bidang kenegaraan dimulai tahun 1905, ketika beliau bekerja dalam rangka pemisahan Norwegia dari Swedia secara damai. Berkat jasanya, beliau diangkat menjadi menteri pertama Norwegia untuk Inggris Raya (1906-1908). Pada tahun 1910 beliau diangkat menjadi direktur pada komisi internasional untuk mempelajari laut dan beliau membuat beberapa perjalanan ilmiah, terutama di Antlantik Utara (1910-1914).

Kegiatan humanitar beliau dimulai pasca perang dunia ke-1. Ditunjuk sebagai komisi tinggi untuk pengungsi Liga Bangsa-bangsa (kini PBB), mengantarnya menerima hadiah Nobel pada tahun 1922. Liga Bangsa-bangsa sendiri memberinya penghormatan dengan mendirikan Nansen International Office for Refugees pada tahun 1931 yang kemudian mengantarnya kembali untuk menerima hadiah Nobel dalam bidang perdamaian pada tahun 1938. Sebagai penghormatan terhadap ayahnya, Odd Nansen mendirikan The Nansen Help pada tahun 1937.

Beliau wafat pada tanggal 13 Mei 1930 dan dikebumikan tepat pada hari kemerdekaan Norwegia, 17 Mei.

bahan bacaan:

**catatan: artikel ini juga dimuat di blog lautanku.