Dampak Perubahan Iklim pada Laut

19 01 2010

Pada tanggal 4 Januari 2010 yang lalu, BPPT kedatangan tamu penting dari Amerika Serikat, yaitu Dr. Jane Lubchenco, Wakil Menteri Perdagangan AS untuk Kelautan dan Atmosfer, yang juga Kepala Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA). Dalam kunjungan tersebut, beliau sempat memberikan pemaparan dalam acara “General Lecturer on Ocean Science & Technology” dengan judul “Impacts of Climate Change on Oceans”. Dalam pemaparannya ini, beliau menyampaikan tentang beberapa kecenderungan yang terjadi saat ini di laut global, yaitu: laut mengalami penghangatan, laut menjadi lebih asam, dan semakin berkurangnya sumberdaya laut dan terganggunya ekosistem laut yang disebabkan oleh penangkapan ikan berlebih (overfishing), polusi (terutama polusi nutrien), hilangnya habitat yang rentan di pesisir, serta perubahan iklim dan pengasaman laut.

Menurut beliau, sejak tahun 1980-an yang merupakan puncak produksi penangkapan ikan tertinggi, jumlah tangkapan ikan secara global telah mengalami penurunan (Myers dan Worm, 2003), dimana 25% dari perikanan global telah berkurang secara signifikan (FAO, 2005) dan 90% dari seluruh ikan besar telah sirna (Myers dan Worm, 2003). Semuanya itu, kembali lagi, tidak terlepas dari 4 faktor utama, yaitu penangkapan ikan berlebih (overfishing), polusi (terutama polusi nutrien), hilangnya habitat yang rentan di pesisir, serta perubahan iklim dan pengasaman laut.

Seiring dengan semakin meningkatnya gas rumah kaca (GRK) di atmosfer bumi, para ahli memperkirakan bahwa akan terjadi pula kenaikan suhu dan muka air laut serta kemungkinan terjadinya perubahan sirkulasi air laut. Mengacu kepada hasil penelitian Levitus et al. (2000) yang menyatakan bahwa kandungan bahang di laut mengalami kenaikan di pertengahan kedua abad ke-20, beliau menyatakan bahwa hal ini akan berdampak pada terjadinya pemutihan terumbu karang (coral bleaching), melelehnya es di Samudera Arktik, dan punahnya beberapa spesies  ikan.

Yang cukup mengejutkan, menurut beliau, perubahan iklim ternyata telah mengubah dinamika upwelling di pantai. Jika pada tahun 1950-1999 jarang ditemukan adanya hipoksia  dan anoksia (berkurangnya konsentrasi oksigen terlarut dalam kolom air), maka sejak tahun 2000 hingga 2005 telah terjadi peningkatan jumlah kejadian hipoksia. Bahkan di tahun 2006 ditemukan terjadinya anoksia di inner-shelf.

Advertisements

Actions

Information

5 responses

7 06 2017
Roby

Dengan Hormat,
Perkenalkan nama saya Roby, pegawai dinas perikanan. Saat ini saya membuat tulisan keterkaitan antara daerah-daerah yang mengalami upwelling dengan tingkat kesuburan perairan dan budidaya rumput laut (makro alga). Ada beberapa yang ingin saya tanyakan sebagai berikut :
1. Sejauh mana radius pengaruh upwelling khususnya dalam menyuplai nutrien di perairan, apakah menjangkau juga wilayah-wilayah teluk yang tidak berhadapan langsung dengan lautan yang mengalami fenomena upwelling;
2. Bagaimana keterkaitan antara ARLINDO (arus lintas Indonesia) dengan upwelling dan apakah ARLINDO juga berpengaruh menjadi sebagai “sarana transport” nutrien ke wilayah-wilayah teluk sekitar ARLINDO.

Mohon Penjelasannya
Hormat,
Roby

14 06 2017
agusset

Yth. Pak Roby, mohon maaf baru dibalas sekarang.

1. untuk radius pengaruh upwelling dalam menyuplai nutrien bergantung pada pola arusnya. Jika arus dari lokasi upwelling mengarah ke teluk ketika upwelling terjadi, maka konsentrasi nutrien di wilayah teluk tersebut akan mendapat pengaruh dari massa air yang dibawa arus dari lokasi upwelling. Bahkan bukan hanya nutriennya saja yang dipengaruhi, tetapi juga suhu dan salinitasnya.

2. ARLINDO memang merupakan “sarana transpor” yang mengalirkan massa air dari Samudera Pasifik ke perairan Indonesia dan Samudera Hindia. Transpor massa air ini jelas akan mempengaruhi pula konsentrasi nutrien di perairan yang dilaluinya. Hanya saja, karena ARLINDO cenderung kuat di lapisan kedalaman di bawah permukaan (pada kedalaman termoklin) dan berada di lintasan tertentu di Selat Makassar, maka pengaruhnya ke teluk-teluk di sekitarnya mungkin tidak terlalu signifikan. Secara tidak langsung, bisa saja ARLINDO memicu terjadinya pelemahan atau penguatan upwelling.

7 06 2017
Roby

Sekalian tanya mas yaa…

Apakah pada saat hujan, air hujan akan cenderung berada di atas permukaan laut mengingat berat jenis air hujan yang tawar kurang dari berat jenis air laut ? Kalau bercampur berapa lama kira2 waktu yang diperlukan sehingga keduanya bercampur dengan sempurna. Mohon penjelasan. Terima Kasih,

14 06 2017
agusset

Biasanya, pasca-terjadinya hujan, terutama jika hujannya cukup lebat, salinitas air laut di permukaan akan menjadi lebih rendah. Hal ini terjadi karena adanya suplai air tawar yang cukup banyak dari air hujan. Karena dinamika di laut yang sangat tinggi, biasanya kondisi ini tidak berlangsung terlalu lama, mungkin hanya dalam beberapa menit. Air hujan yang tawar ini akan segera teraduk dan bercampur dengan air laut.

21 06 2017
Roby

Terima kasih penjelasannya pak Agus….sukses selalu, ditunggu postingan selanjtnya :-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: