Fotobioreaktor untuk menyerap CO2

Di postingan sebelumnya saya pernah sedikit bercerita tentang percobaan yang tengah kami lakukan di Balai Teknologi Lingkungan Puspiptek Serpong. Alhamdulillah, kegiatan percobaan yang telah kami lakukan nampaknya cukup berhasil meskipun masih ada banyak perbaikan yang harus dilakukan.

Secara umum, percobaan pertama fotobioreaktor telah memberikan hasil dan indikasi yang positif akan kemampuan fitoplankton dalam mereduksi kandungan CO2 yang diinjeksikan ke dalam fotobioreaktor. Fitoplankton jenis Chaetoceros gracilis terbukti mampu beradaptasi dengan pH yang lebih rendah dari kondisi inokulasinya. Namun demikian, karena percobaan ini masih dalam tahap awal, maka percobaan-percobaan selanjutnya serta penyempurnaan-penyempurnaan masih perlu dilakukan agar dapat dihasilkan data yang lebih baik sehingga tujuan dari penelitian ini dapat dicapai.

Hasil penelitian ini pun sudah kami presentasikan di Pertemuan Ilmiah Tahunan V Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia dengan tema “Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kelautan dalam Memenuhi Kebutuhan Energi Terbaharukan, Pangan dan Obat-obatan di Indonesia”, ITB, 11 November 2008. Makalah yang kami sajikan di pertemuan ilmiah ini kami beri judul: “Teknologi penyerapan Karbondioksida dengan kultur fitoplankton pada fotobioreaktor”. Selain itu, kegiatan ini juga telah kami publikasikan di Jurnal Teknologi Lingkungan (terakreditasi LIPI dan DIKTI) Edisi Khusus Hari Lingkungan Hidup Juni 2009 dengan judul: “Penerapan teknologi fotobioreaktor mikroalga jenis air-lift untuk menyerap emisi CO2″.

Tahun 2009, kami telah melanjutkan penelitian ini dengan desain forobioreaktor yang berbeda serta sumber gas CO2 yang berasal dari genset dan alhamdulillah berhasil dengan baik. Selain dengan fotobioreaktor, kami juga melakukan percobaan penyerapan CO2 dengan menggunakan kolam mikroalga. Publikasi ilmiah untuk kegiatan ini sedang kami siapkan saat ini dan mudah-mudahan dapat segera dipublikasikan.

Tahun 2010 ini rencananya kami akan menerapkan fotobioreaktor dan kolam mikroalga ini di industri untuk menyerap emisi CO2 dari cerobong asap. Alhamdulillah sudah ada industri yang berkenan menerima kami untuk berkegiatan di sana. Menarik bukan?

E-book gratis dari the National Academies Press

Ketika sedang mencari informasi mengenai climate change feedbacks melalui google, ternyata saya menemukan situs the National Academies Press (NAP) yang menyediakan e-book gratis untuk pengunjung dari Indonesia. Wah, seneng betul bisa dapat e-book gratis seperti ini. Mengasyikan sekali. Maklum, saya memang suka sekali membaca, terutama buku-buku oseanografi yang merupakan disiplin ilmu saya. Sayangnya, buku dalam bidang ini memang termasuk yang langka (alias sulit dicari di Indonesia) dan kalaupun ada, harganya cukup mahal (maklum kebanyakan ada di rak buku impor).

Terimakasih banyak untuk NAP atas dedikasinya menyediakan fasilitas gratis ini. Semoga dapat ikut mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia (yang ironisnya agak dilupakan oleh para pemegang kekuasaan dan pengambil kebijakan di negeri ini) dan memajukan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

Merdeka!

Dampak Perubahan Iklim pada Laut

Pada tanggal 4 Januari 2010 yang lalu, BPPT kedatangan tamu penting dari Amerika Serikat, yaitu Dr. Jane Lubchenco, Wakil Menteri Perdagangan AS untuk Kelautan dan Atmosfer, yang juga Kepala Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA). Dalam kunjungan tersebut, beliau sempat memberikan pemaparan dalam acara “General Lecturer on Ocean Science & Technology” dengan judul “Impacts of Climate Change on Oceans”. Dalam pemaparannya ini, beliau menyampaikan tentang beberapa kecenderungan yang terjadi saat ini di laut global, yaitu: laut mengalami penghangatan, laut menjadi lebih asam, dan semakin berkurangnya sumberdaya laut dan terganggunya ekosistem laut yang disebabkan oleh penangkapan ikan berlebih (overfishing), polusi (terutama polusi nutrien), hilangnya habitat yang rentan di pesisir, serta perubahan iklim dan pengasaman laut.

Menurut beliau, sejak tahun 1980-an yang merupakan puncak produksi penangkapan ikan tertinggi, jumlah tangkapan ikan secara global telah mengalami penurunan (Myers dan Worm, 2003), dimana 25% dari perikanan global telah berkurang secara signifikan (FAO, 2005) dan 90% dari seluruh ikan besar telah sirna (Myers dan Worm, 2003). Semuanya itu, kembali lagi, tidak terlepas dari 4 faktor utama, yaitu penangkapan ikan berlebih (overfishing), polusi (terutama polusi nutrien), hilangnya habitat yang rentan di pesisir, serta perubahan iklim dan pengasaman laut.

Seiring dengan semakin meningkatnya gas rumah kaca (GRK) di atmosfer bumi, para ahli memperkirakan bahwa akan terjadi pula kenaikan suhu dan muka air laut serta kemungkinan terjadinya perubahan sirkulasi air laut. Mengacu kepada hasil penelitian Levitus et al. (2000) yang menyatakan bahwa kandungan bahang di laut mengalami kenaikan di pertengahan kedua abad ke-20, beliau menyatakan bahwa hal ini akan berdampak pada terjadinya pemutihan terumbu karang (coral bleaching), melelehnya es di Samudera Arktik, dan punahnya beberapa spesies  ikan.

Yang cukup mengejutkan, menurut beliau, perubahan iklim ternyata telah mengubah dinamika upwelling di pantai. Jika pada tahun 1950-1999 jarang ditemukan adanya hipoksia  dan anoksia (berkurangnya konsentrasi oksigen terlarut dalam kolom air), maka sejak tahun 2000 hingga 2005 telah terjadi peningkatan jumlah kejadian hipoksia. Bahkan di tahun 2006 ditemukan terjadinya anoksia di inner-shelf.

Pelayaran WOC 2009

Sebetulnya ini kegiatan tahun lalu, hanya saja karena banyaknya kesibukan di kantor, baru sempat dimuat di blog oseanografi saat ini.

Ceritanya, dalam rangka memeriahkan dan menyukseskan perhelatan akbar World Ocean Conference (WOC) 2009 di Manado, Sulawesi Utara tanggal 11-15 Mei 2009 yang lalu, Kapal Riset Baruna Jaya IV milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan pelayaran ke Manado dan mengadakan acara Open Ship di Teluk Manado. Dalam pelayaran ini dilakukan pula kegiatan pengambilan sampel air untuk analisis nutrien, klorofil-a, pH, alkalinitas, dan karbon anorganik terlarut (dissolved inorganic carbon, DIC) serta pengukuran konduktivitas-temperatur-kedalaman (conductivity-temperature-depth, CTD) dan arus laut serta survei ikan laut dalam. Selain untuk memeriahkan dan menyukseskan acara WOC 2009, kegiatan ini ditujukan pula untuk memberikan pelatihan kepada para mahasiwa dan dosen ilmu kelautan dan perikanan.

Pelayaran yang diawali acara pelepasan oleh Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Prof. Dr. Indroyono Soesilo di Pelabuhan Tanjung Priok tanggal 28 April ini diikuti oleh beberapa mahasiswa (dan dosen) dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Syah Kuala (UNSYIAH), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT), serta Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta (STIP). Pokoknya ramai deh! Lintasan yang diambil adalah Tanjung Priok-Laut Jawa-Selat Makassar bagian selatan-Laut Banda-Laut Maluku-Teluk Manado.

Nah di pelayaran ini, sembari menunggu tiba di tempat pengambilan data, diadakan pula pelatihan dan presentasi oleh para narasumber dan tim peneliti dari Balai Teknologi Survey Kelautan (dulu UPT Baruna Jaya). Kebetulan di pelayaran ini saya juga ikut sebagai narasumber sekaligus saintis untuk survey CO2 di laut (cerita tentang kegiatan pengukuran CO2 di laut nanti akan saya tuliskan dalam postingan terpisah deh, janji!).

Berikut adalah materi yang diberikan selama pelayaran:

  1. Dasar keselamatan dalam pelayaran, pengenalan kapal, dan peralatan survei.
  2. Pengenalan teknologi dan peralatan survei.
  3. Teknologi survey oseanografi dan penerapannya.
  4. Praktikum pengambilan data dan sampel air laut beserta cara mengolah dan menganalisisnya di laboratorium.
  5. Pengenalan teknologi survei batimetri dengan multibeam.
  6. Penerapan teknologi penginderaan jauh untuk perikanan laut.
  7. Teori dan praktek penangkapan ikan dengan menggunakan trawl dan identifikasi jenis serta preparasi sampel ikan.

Alhamdulillah, selama pelayaran kondisi laut sangat tenang, mulus banget bak jalan tol. Yang jelas, tidak ada yang mengalami mabok laut, nafsu makan juga bagus. Akibatnya, selesai pelayaran berat badan bertambah. Apalagi, suplai makanan di kapal betul-betul non stop, selalu ada makanan yang siap untuk dikunyah.

Berlayar itu memang menyenangkan, asal kondisi laut bersahabat.