Sedimen di laut dalam ideal untuk menyimpan karbon dioksida

9 08 2006

Pakar dari Universitas Harvard memaparkan sebuah solusi inovatif untuk menyimpan karbon dioksida yang dihasilkan dari kegiatan manusia –yang kini semakin menumpuk di atmosfer dan menyebabkan pemanasan global– di dalam sedimen di dasar lautan. Mereka menemukan bahwa sedimen di laut dalam dapat menyediakan tempat yang permanen dan tak terbatas untuk menyimpan gas rumah kaca ini, dan memperkirakan bahwa sedimen lantai samudera di wilayah Amerika cukup luas untuk menyimpan emisi karbon dioksida nasional untuk ribuan tahun yang akan datang.

Harvard’s Kurt Zenz House dan Daniel P. Schrag, bersama dengan koleganya dari Massachusetts Institute of Technology dan Columbia University, menjelaskan secara rinci keuntungan menyimpan kelebihan karbon dioksida ribuan meter di bawah permukaan laut dalam Prosiding National Academy of Sciences edisi minggu ini.

Memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat tanpa akibat negatif pada iklim bumi adalah salah satu tantangan yang ada saat ini, demikian kata Schrag, profesor pada earth and planetary sciences, Fakultas Seni dan Sains Harvard yang juga menjabat sebagai direktur pada Harvard’s Center for the Environment. Sejak digunakannya bahan bakar fosil sebagai bahan bakar utama di abad ke-21, maka diperlukan tempat penyimpanan yang permanen untuk menyimpan sebagian gas karbon dioksida yang ada di atmosfer agar kandungan gas rumah kaca ini tidak terus bertambah dan mempengaruhi iklim di bumi.

Schrag dan kolega-koleganya mengatakan bahwa metode ideal untuk menyimpan karbon dioksida adalah dengan cara menginjeksikan gas tersebut ke dalam sedimen di laut dengan ketebalan ratusan meter. Kombinasi dari temperatur yang rendah dan tekanan yang tinggi pada kedalaman laut 3000 meter akan membuat karbon dioksida berubah menjadi cairan yang lebih berat dari air laut di sekitarnya, yang memungkinkannya untuk tidak terlepas dari tempat penyimpanannya.

Menginjeksikan karbon dioksida ke dalam sedimen lantai samudera akan dapat mengurangi pengaruh buruknya terhadap kerusakan kehidupan di laut dan jelas lebih aman daripada menyemprotkannya secara langsung pada sebuah jebakan gas di laut. Hal ini juga akan lebih menjamin bahwa tidak ada gas yang keluar ke atmosfer melalui proses percampuran oleh arus laut. Pada temperatur dan tekanan di laut dalam yang cukup ekstrim, karbon dioksida bergerak dalam fasa cairnya untuk membentuk kristal hidrat yang solid dan tak bergerak, dan mempercepat kestabilan sistem. Para ilmuwan mengatakan bahwa gas tersebut akan cukup aman dalam tempat penyimpanannya dan tahan terhadap gempa bumi atau proses-proses geomekanik lainnya.

Beberapa peneliti lain ada yangmengusulkan untuk menyimpan karbon dioksida ini dalam formasi geologi seperti pada lapangan gas alam, tetapi reservoir di daratan seperti itu memiliki resiko kebocoran yang tinggi.

Sedimen di laut dalam berperan sangat besar sebagai reservoir penyimpanan, demikian kata House, mahasiswa pasca sarjana di Harvard’s Department of Earth and Planetary Sciences. Sekitar 22% atau 1,3 juta kilometer persegi lantai samudera di zona ekonomi eksklusif Amerika Serikat memiliki kedalaman lebih dari 3000 meter. Diperkirakan emisi karbon dioksida tahunan dapat disimpan di bawah sedimen pada suatu area seluas 80 kilometer persegi saja, sehingga lantai samudera di wilayah Amerika dapat digunakan untuk menyimpan kelebihan karbon dioksida untuk waktu ribuan tahun lamanya.

Menurut para peneliti, di luar wilayah 200 mil zona ekonomi Amerika Serikat, kapasitas total penyimpanansedimen laut dalam adalah tak terbatas.

Para peneliti menyatakan bahwa sedimen yang tipis dan impermeabel (tak kedap) tak cocok untuk menyimpan karbon dioksida, seperti pada daerah dengan kemiringan yang terjal, dimana proses longsor (lanslide) dapat menyebabkan gas terlepas dari tempat penyimpanannya. Mereka mengatakan bahwa pengkajian lebih lanjut dalam hal kelayakan mekanik dalam membawa karbon dioksida ke lantai samudera, juga studi tentang dampak dari tinggi muka laut.

**diterjemahkan secara bebas dari artikel di Science Daily.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: