Perubahan iklim akan mempengaruhi carbon sequestration di laut

9 08 2006

Pada tulisan sebelumnya yang berjudul “Sedimen laut dalam ideal untuk menyimpan karbon dioksida”, para peneliti mencoba untuk memberikan sebuah solusi inovatif dalam mengurangi jumlah emisi karbon dioksida di atmosfer. Namun demikian, solusi tersebut tidak sepenuhnya aman. Tulisan di bawah ini mencoba mengupas pendapat peneliti lainnya tentang bagaimana perubahan iklim akan dapat mempengaruhi penyimpanan karbon dioksida di laut dalam tersebut.

Sebuah model sistem bumi yang dibangun oleh para peneliti di Universitas Illinois di Urbana-Champaign mengindikasikan bahwa lokasi terbaik untuk menyimpan karbon dioksida di laut dalam akan berubah seiring dengan perubahan iklim.

Injeksi langsung karbon dioksida ke dalam laut telah disarankan sebagai salah satu metode untuk mengontrol bertambahnya jumlah karbon dioksida di atmosfer bumi dan meminimalkan dampak dari pemanasan global. Namun, karena atmosfer berinteraksi dengan lautan, penyerapan karbon dioksida dan kapasitas sequestrasi dapat dipengaruhi oleh perubahan iklim tersebut (untuk lebih tahu apa itu sequestrasi, silahkan lihat artikel dengan judul Carbon Sinks).

Melalui beberapa mekanisme interaksi fisis dan kimiawi, sirkulasi laut dapat mengubah dan mempengaruhi waktu simpan karbon dioksida yang diinjeksikan ke laut dalam, dan hal itu secara tidak langsung akan mengubah tempat penyimpanan karbon di lautan dan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer, demikian dikatakan oleh Atul Jain, seorang profesor sains atmosfer. “Dimana karbon dioksida dinjeksikan akan menjadi isu yang sangat penting”.

Profesor Jain bersama mahasiswa pasca sarjananya Long Cao telah membangun sebuah model terintegrasi iklim-laut-biosfer-siklus karbon yang diberi nama Integrated Science Assessment Model yang memungkinkan untuk mengkaji secara luas interaksi fisis dan kimiawi antar komponen individual dalam sistem bumi, juga siklus karbon, perubahan iklim dan sirkulasi laut.

Menurut Jain, pemahaman yang baik tentang perubahan iklim, sirkulasi laut, siklus karbon di laut dan feedback mechanisms adalah sangat penting dalam membuat sebuah proyeksi yang dapat dipercaya tentang kandungan karbon dioksida di atmosfer dan akibatnya terhadap perubahan iklim. Model ini telah diuraikan/dibahas dalam Journal of Geophysical Research – Oceans edisi September 2005 dengan judul “An Earth system model of intermediate complexity: Simulation of the role of ocean mixing parameterizations and climate change in estimated uptake for natural and bomb radiocarbon and anthropogenic CO2 (lihat abstraknya di sini) .

Dengan menggunakan model ini, Jain dan Cao mempelajari efektivitas sequestrasi karbon di lautan dengan cara menginjeksikan karbon dioksida ke lokasi-lokasi dan kedalaman yang berbeda di dasar lautan.

Mereka menemukan bahwa perubahan iklim memiliki pengaruh yang besar terhadap kemampuan laut menyimpan karbon dioksida. Efeknya terlihat nyata terutama di Samudera Atlantik. Penemuan ini dimuat dalam journal Geophysical Research Letters edisi bulan Mei dengan judul: “Assessing the effectiveness of direct injection for ocean carbon sequestration under the influence of climate change” (lihat abstraknya di sini).

Cao mengatakan bahwa ketika mereka menjalankan modelnya tanpa mekanisme imbal balik iklim, Samudera Pasifik mampu menahan karbon dioksida dalam waktu yang lebih lama. Ketika mekanisme imbal balik itu ditambahkan, waktu simpan di Samudera Atlantik jauh lebih baik. Menginjeksikan karbon dioksida di Samudera Atlantik akan lebih efektif daripada menginejksikannya di Samudera Pasifik dan Hindia pada kedalaman yang sama.

Menurut Jain, perubahan iklim di masa datang dapat berpengaruh terhadap penyerapan karbon dioksida di laut dan juga pola sirkulasinya. Dengan bertambahnya suhu permukaan laut, densitas air laut akan berkurang dan akan memperlambat sirkulasi termohalin, sehingga kemampuan laut untuk menyerap karbon dioksida juga akan berkurang. Hal ini akan mengakibatkan jumlah karbon dioksida di atmosfer bertambah dan memperburuk masalah yang ada.

Lebih lanjut Jain mengatakan bahwa pada saat yang bersamaan, melemahnya sirkulasi laut akan memperlemah proses percampuran di laut, sehingga akan mengurangi ventilasi ke atmosfer dari karbon dioksida yang diinjeksikan ke laut dalam. Hasil model mereka menunjukkan bahwa efek ini lebih dramatis di Samudera Atlantik.

Jain juga mengatakan bahwa memindahkan karbon ke laut dalam bukan merupakan solusi yang permanen untuk menguranngi jumlah karbon dioksida di atmosfer. Karbon dioksida yang disimpan di laut tidak akan selamanya dapat bertahan di situ. Kadangkala ia akan menampis ke permukaan dan ke dalam atmosfer.

**diterjemahkan secara bebas dari Science Daily.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: